Skip navigation

Aku pernah berkata pada mereka dan diriku sendiri, bahwa aku tak akan berpaling…

Cinta, 7 tahun yang lalu aku duduk di sini. Menyuarakan kegalauanku. Di depanku sahabatku duduk membahas sesuatu yang tepat untukku. Kita berdua memang menjadi raja untuk dunia kita masing- masing saat itu. 4 jam sudah waktu yang telah kita habiskan untuk berbincang di situ dari jam 3 sore. Nyanyian cinta dari sebelah rumahku terdengar sangat jelas. Aku bertanya pada sahabatku “ apa benar itu bukan untukku?”. Sahabatkuku dengan sangat singkat menjawab “bukan, jangan GR”. Kami kembali menghisap rokok putih kesayanganku dulu.

3 tahun setelah itu aku duduk masih di tempat yang sama. Kali itu yang duduk di depanku adalah dia yang telah menjadi teman sekaligus cinta, teror dan keluargaku. Berdua terjaga dalam keterlelapan pagi. Ia duduk dengan setia mendengar celotehku dan kemudian memberiku referensi buku kecintaannya yang sangat logis dan begitu menarik. Ia tidak bermaksud apa-apa, ia hanya menyuruhku untuk menjaga hati. Nyanyian cinta datang mengalun dari sebelah rumahku. Aku beranjak tidur kala ia bermaksud untuk hal lain.

Sekarang, 4 tahun setelah aku berusaha memperbaiki kalbu dan akalku, ironisnya, aku seperti tidak ingin duduk. Tapi aku tahu aku teralu lelah bercinta dengan kefanaan untuk bertumpu pada kakiku. Hfff…. Terbersit persoalanku dengan cintaku terhadap adam yang lain. Aku bicara tanpa henti, tanpa rasa, kecuali ego. Di depanku sekarang adalah sahabatku yang lain. Ia dengan sangat sabar menyimak dan berbesar hati berdialog denganku. Dia sering mempertanyakan kesetiaanku dan menggodaku untuk berselingkuh…tapi aku tahu benar dia hanya bergurau, dia pun pasti tak bulat rela…Nyanyian cinta kembali terdengar…sahabatku melontarkan gurauannya lagi kala dia melihatku sedikit menikmati nyanyian cinta itu lantas memberiku waktu untuk tertegun, sembari ia beranjak mencari tempat yang terhindar dari tatapan matahari, yang saat itu mulai memerah…

Cintaku, Maafkan aku…aku benar-benar resah…jari lentikku masih menari di atas keyboard tua milik ayahku…
Hhhh.. Cinta, apa benar aku harus berpaling? Kalau memang ini bukan seharusnya yang aku rasakan mengapa aku merasakannya? Kalau memang akal dan hatiku penuh tanya, mengapa tidak pernah terjawab ? Kalau memang ini butuh waktu, kenapa harus sejauh langkah cahaya? Dan kalau memang akhirnya aku harus pergi…akankah aku menjadi utuh…??

Cintaku, Aku masih duduk di bawah kaki Mu , dan di atas hati dan akalku yang kecil, aku ingin meyakinkan diriku sendiri bahwa aku sangat mencintai Mu…Aku tidak ingin meninggalkan Mu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: