Skip navigation

Ada apa dengan anak yang selalu “menempel” dengan orang tua?
Ada apa dengan anak yang sikapnya sarkastis?
Ada apa dengan anak yang selalu rewel kalau tidak semua keinginannya dapat terpenuhi?


Beberapa bulan yang lalu saya harus menghadapi anak umur 4 tahun yang setiap mau mulai belajar pasti menangis gila-gilaan. Sebenarnya dia anak manis…hanya saja…terbersit di otak saya kalau anak ini dimanja dengan cara yang aneh…
30 menit bisa terbuang cuma-cuma kalau saya mau ‘ngeladenin’ satu anak ini saja…
omong omong,
Saya percaya betul kalau sikap anak pasti ga kebentuk tiba-tiba…

Minggu pertama & kedua : (situasi ; Mama dan Bude sang anak mengantar sampai ruang belajar)
Saya pikir…”ahh..itu biasa… ga semua anak memang dapat langsung beradaptasi dengan lingkungan baru..”
saya masih sangat memaklumi, Mama & bude masih terlihat sangat meladeni sang anak yang selalu menempel dengan Mama .

Minggu ketiga & keempat : (Situasi ; Bude (tanpa mama) menunggu di ruang belajar)
saya sudah mulai risih karena sang bude langganan menunggu di ruangan yang sama…namun tetap tak patah semangat membujug sang anak dan berdiskusi dengan budenya (untung sang bude cukup kooperatif), bude pun menyatakan kalau si anak sedang nangis atau tidak mau mengikuti pelajaran baiknya dicuekkin saja oleh saya…(ling lung tiba-tiba..karena saya pikir orangtua bakal rugi kalo anaknya bayar full tapi sang anak hanya ikut 1/4 pelajaran saja secara sisanya dipake untuk merengek-rengek doang)

Memasuki pertengahan bulan kedua :
Secara dapet ijin untuk nyuekkin, saya pun ‘angkat tangan’ dan mulai membiasakan diri dengan kehadiran sang bude , serta merta membatin pada diri sendiri ” mungkin anak-anak akan mulai terbiasa di bulan ke-3…”(ini memang metode baru saya…metode saya yang dulu lebih pushy . Konon saya memberikan waktu bagi orang tua/pengantar untuk menunggu atau memonitor HANYA di pertemuan pertama )

Bulan ketiga:
kelakuan sang anak malah menjadi-jadi… budenya gerak sedikit langsung nangis, merengek dan cenderung jadi lebih kasar baik ke teman-temannya, maupun saya… anak pernah memukul dan mencakar saya tanpa sebab yang jelas…Setelah melewati masa ‘acuh-tak-acuh’, sayapun berdialog lagi dengan budenya (untuk entah yang ke berapa kalinya)…bude pun mulai sungkan terhadap saya dan mulai bertindak kasar juga terhadap sang anak…

Saya pikir… nahhh…ketawan deh… ternyata bude yang biasanya terlihat cukup sabar dan bahkan sempat memberi saran saya untuk mengambil sikap sedemikian rupa , juga akhirnya letih dan seolah-olah kesabaran yang lalu-lalu hanya tindakan “memendam’ semata….

AKHIRNYA, (setelah ngulik-in artikel-artikel soal anak selama beberapa bulan terakhir) di suatu sore, saya secara tidak sengaja menonton acara “The Nanny 911” ( yang akhirnya jadi tontonan wajib di sabtu sore – untung lalaki saya tidak berada di kota yang sama)

Hari H – nya
disaat dia menangis dan ditarik paksa oleh sang bude supaya anak keluar kelas (mungkin karena sudah kehilangan kesabaran dan bingung karena anak ga bisa diapa-apain lagi) , saya maju tak gentar menghampiri bude , berbicara tegas untuk melepaskan anak lalu bericara (dengan nada tegas pula) pada sang anak untuk lebih baik berbicara tanpa menangis karena suaranya tidak kedengeran dan dimengerti , lantas mengelus dadanya serta menanyakan apa yang dia rasakan sekarang…

***cling*** ajaib deh, cukup dengan mempraktekkan apa yang Nanny lakukeun, “the devilish kid” langsung jadi angel loh…!

memang saya harus ‘ngobrol’ dengan sang anak dan membuang waktu selama 15 menit, tapi enak juga mendengar dia bicara tanpa merengek dan akhirnya mengetahui bahwa dia itu sedang capek pula kangen sama mamanya yang mulai masuk kerja lagi setelah beberapa bulan tidak kerja…

After Hari H
dan hari-hari setelahnya…sang anak secara mandiri melangkahkan kakinya ke ruang belajar dan berinteraksi sangat manis dengan teman-teman maupun saya. (FIUHHH)

So, basically , dear parents,
rasanya kids need to be heard…

Kalo saya boleh jujur , selama ini saya banyak ketemu orang tua (atau bude atau tante yang diberikan kewenangan untuk “mengurusi’ anak saat orangtuanya kerja) yang tidak menjalankan komunikasi dengan anak by truly listen to what they say … bahkan dikala anak sedang rewel saya sering ngeliat orang tua , tante atau bude yang kerjaannya membujuk anak dengan janji-janji palsu (biasanya mereka me-wink-kan matanya terhadap saya kalau lagi berbuat hal itu) atau bahkan ada yang seolah-olah menyalahkan saya karena anaknya menangis (yang padahal gara-gara dipaksa ballet tanpa tidur siang terlebih dahulu atawa anak lagi ga enak badan) lantas membujuk untuk membelikan cokalat/chiki [??@$jajanan??5%?*]

yakin itu bujukan yang baik?? atau kita para orang tua atau pendidik sering tidak sadar bahwa kita seringkali bersikap meredam rewelan anak dengan sekedar membujuk cuma supaya anak ga rewel lagi- tanpa harus memahami apa yang anak rasakan??? .

seriously, i may not an expert on this, tapi menurut saya, rasanya REAL two ways communication is better than everything…(secara para pendidik formal atau non formal tidak bertemu setiap hari atau harus menladeni belasan/puluhan anak lainnya , kami pun tidak bisa setiap kali mengadakan interaksi seperti ini…jadi, mohon para oranguta, mengertilah, mungkin lebih enak orang tua yang notabene berada di lingkaran primer sang anak sebisa mungkin menyempatkan diri untuk melakukan deep communication & really listen to child’s thoughts setiap harinya…)

Terimakasih atas pengertian dan kerja sama Ibu / Bapak.

Salam,
GBU

7 Comments

  1. Betul tante ajeng..eh Tasya..hehehe.. Anak2 memang suka ari perhatian dengan cara berbeda-beda..itu memang kendala yg sering di hadapi ibu bekerja.Si anak maunya nemepel kaya perangko.. kynya sih karena kehilangan sosok ibu yang biasanya ada buat si anak.Hal itu juga pernah Mama Shasa alami..Shasa sering rewel kalo minta sesuatu.tp mama sih cuekin aja..kalo udh tenangan baru di kasih pengertian..sikapnya gak baik..

  2. iya lah… komunikasi itu penting banget, tapi sayang gak semua orang ngerti juga how to practice it.. jangankan anak-anak, orang dewasa pun masih ada aja yang lebih suka mengemukakan apa yang diinginkannya dengan cara non verbal berharap kalo orang yang ditujunya bisa ngerti apa yang dia mau. Anak-anak lebih suka mengkomunikasikan apa yang mereka inginkan atau rasakan dengan cara menangis, memukul, membanting/melempar benda lebih karena mereka tidak tahu cara menyampaikan keinginan mereka. Jadi, memang itu sudah tugas orang tua untuk menciptakan hubungan antar orang tua-anak yang komunikatif dan akhirnya tercipta lah saling pengertian itu.Ya intinya kalo kita ingin semua orang ngerti apa mau kita atau apa yang kita rasakan tanpa bicara apa apa dan cuman berharap they can read between the lines… saya rasa salah lah..

  3. salam kenal, maaf belum kenal udah ikutan kasih komentar, kalau lihat postingannya, berarti yg punya blog guru TK yah?Bunda punya pengalaman yg sama, karena bunda juga dulu guru TK, sekedar sharing, memang biasanya awal masuk sekolah banyak anak2 yg masih minta di temenin sama keluarganya, ini dapat di maklumi karena anak perlu adaptasi di tempat barunya, dulu sih di tempat bunda, gurunya dlm 1 kelas ada 2 orang, jadi asisten guru yg biasanya ngedeketin anak itu, diajak ngobrol kalau perlu diajak keluar biar merasa nyaman, ga pa-pa kalau si anak ga ikutin kelas, nanti kalau anak udah merasa nyaman sama gurunya dan udah siap, baru diajak ke kelas lagi. Oya kalau si anak nangis jangan segan-segan memeluknya, katanya sih itu membuat anak merasa nyaman banget.Buat yg masih nempel banget sama keluarga, ga pa-pa hari pertama keluarganya ikut di kelas…hari ke-2 biasanya di pinggir kelas…hari ke-3 biasanya sudah di luar ruangan….hari ke-4 sudah diluar kelas…biasanya di tempat bunda begitu…batas toleransi keluarga boleh di ruangan ya cuma seminggu lebih dari itu ya usaha guru.

  4. nggak kebayang tuh…preman bisa juga ngasuh anak kecil….(clingak-clinguk takut kedengeran yg punya blog)pantes tuh utk segera punya baby…

  5. @ mama sasha: Hehehe..selamat berjuang bagi ibu muda yang cukup terampil menyguhkan anak dgn bermacam bentuk hidangan (nyengir kuda)di sela pekerjaan, mudah2an sasha tetep diajak ngobrol ya =D…p.s mama, posting komentnya kalu bisa pk yg buat anonim juga dunk..hihii..biar gampang naro linknya (nyengir kuda lagi)@ Bunda Azra: Wah saya bukan guru TK kok..hanya pemerhati situasi ajah ..hehehhehe…omong omong, kalo di tempat les susahnya ga ketemu setiap hari bunda…pun durasi pertemuannya hanya 45 menit…indeed, pelukan bikin mereka nyaman, apalagi sambil dibilangin kalo kitanya sayang sm mereka..=)terima kasih untuk masukkannya bunda =) @gadismanis: bener jugah =)@jejaka kampung: Huehehehehehe…feedbacknya “OGGAAAAHHHHHHHHHHHHHHH”emang dia (sambil nuding kembang desa)agegegeggegeg

  6. Ironis emang..Akuh yg doyan anak kecil, tp kerjanya engga ada sangkut pautnya sama anak2.Kamuh (nuding) yg takut sama bayi, justru berkecimpung sama anak2 kecil.Sialll lo, Jenggggg! Kekekekekkkkk..Btw, gw salutan aja sama elo. Bisa memaksakan diri untuk sabar sama anak2 murid lo yg centil2 itu. Hihihihihi..

  7. wah… hebad… bukan utk anak kecil aja mbak, aq yg udah gede gini jg masih digituin sama mama papa.. ga pnah mau ngdenger apa yg aq pikirin.. smwnya musti nurut sm mereka… waduuh… sebeeel!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: