Skip navigation

Monthly Archives: March 2008

Kalau saya lihat dari profilenya, pemuda sang empunya tulisan ini umurnya masih 19 tahun , tapi dia menulis sesuatu yang cukup memercikkan semangat saya terhadap dunia pendidikan di Endonesa kita tercinta ini…

Bagaimana tidak…?
Pemuda ini dengan lantangnya mengatakan ketidaksetujuan maupun kekhawatirannya melihat para mahasiswa yang seolah sudah berubah status menjadi “demonstran ulung”. Saya jadi kepingin memberikan pujian atas kelantangan pemuda ini dulu . Buat saya pribadi, kelantangannya dalam menulis ini adalah cerminan suatu sikap ideal yang rasanya sudah semakin mahal harganya di kalangan mahasiswa. Di masa sekarang ini boro-boro saya lihat mahasiswa punya idealisme , mungkin berani bersikap untuk berdiri di atas kaki sendiri saja rasanya sudah kelimpungan sendiri seperti berada di kemacetan jalanan dan dihimpit segerombolan motor, alias takut disenggol sana sini . *menghela nafas* menilik tulisan saya sebelumnya, andai kata Pater Drost masih ada, beliau pasti sangat sedih melihat keadaan ini….

Soal demonstrasi …Huff…Terus terang semakin hari saya semakin gerah saja melihat mahasiswa demonstrasi di mana-mana. Sepertinya mahasiswa selalu komplain terhadap pemerintah, padahal kebanyakan dari mereka kalo ditanya alasannya berdemonstrasi paling cuma menjawab “ya partisipasi dong …” atau ” ya emang pemerintahan ga becus, kita kan harus bertindak” de el el.
Weleh weleh weleh… gayanya… macam mereka bisa ngatur negara dengan satu jentikan jari tangan aja…

Sejatinya, ‘acara’ tuntut-menuntut (demonstrasi) yang dilatarbelakangi dengan kesungguhan pemikiran & kecerdasan hati , kesadaran diri, PLUS tidak mengandung unsur ‘dalangisme’ (halah, mulei sok bikin-bikin istilah =p) pasti tidak akan menyebabkan kerusuhan toh….=)

Berbicara mengenai latar belakang yang seyogyanya bernuansakan kesungguhan pemikiran & kecerdasan hati ,
Beberapa tahun yang lalu seorang kerabat pernah mengakui bahwa dia pernah menerima uang untuk melakukan demonstrasi yang berawal dari suatu pertemuan penyusunan “skenario” demonstrasi a.k.a kerusuhan antara sebuah organisasi kemahasiswaan di salah satu universitas terkenal dengan salah satu petinggi politik. Dianya sih hanya mendapat 150ribu, sementara 12 mahasiswa yang hadir di pertemuan itu diperkirakan menerima sejumlah uang yang satuannya mencapai jutaan… (Lumayan juga ya untuk memberikan subsidi buku anak-anak SD)

Saya tidak bangga menceritakan punya kerabat yang mau mengambil kesempatan tak bernilai itu, saya pun tidak menjamin cerita itu benar 100%.
Saya hanya berpikir hal seperti itu sangat mungkin terjadi, dan apabila benar adanya, hal ini sungguh memprihatinkan…

Maka pantaslah apabila ada seseorang berkata dengan lantang “Mahasiswa Indonesia! Kalian bukan MESIN!”

Advertisements

Baru liat foto temen-temen saya yang sudah nikah…
Wow…shivered to see…

Terus terang , mengingat saya tahu mereka di masa lajang, setiap foto yang saya lihat kadang membuat saya bertanya-tanya (bukan dalam artian yang sinis) seperti
” apakah mereka benar-benar menikah karena jatuh cinta?”
” Apakah mereka yang menyelenggarakan resepsi , atau orangtua mereka?”
” mungkin ga ya mereka nikah karena sex atau uang?”
” apa mereka benar bisa memasak buat suami mereka?”
” bagaimana ya mereka mendidik anak-anaknya?”

Sungguh, saya tidak maksud menghakimi teman-teman yang telah menikah muda, hanya saja, dari semua undangan pernikahan yang saya hadiri, jujur, saya baru melihat satu pasangan saja yang benar-benar terlihat sangat …. (ga bisa digambarkan keindahannya)… di atas pelaminan…

Saya mungkin dianggap pemimpi karena masih mempercayai an everlasting love, berharap pernikahan dapat terjadi karena cinta, dan keharmonisan keluarga bisa terus berlangsung karena cinta yang dijaga…

Saya mungkin tidak sendirian dalam bermimpi … mengingat anak yang menjadi buah pernikahan pantas untuk melihat cinta yang terpancar dari mata kedua orangtuanya saat melihat dirinya , maupun saat orang tuanya berpandangan satu sama lain…,
bahwa setiap anak yang menjadi buah pernikahan tidak berharap melihat keterkikisan psikologis orang tuanya saat sang ibu atau ayah terluka karena perselingkuhan lantaran keterbatasan cinta di antara ayah dan ibunya…,
dan, apakah setiap anak yang menjadi buah pernikahan berharap untuk diasuh oleh pengasuh ataupun nenek dan kakeknya sekalipun…?

Bagaimana mengenai keteguhan sikap dan kemandirian materi ?
Perjuangan seorang ibu tidak berhenti saat melahirkan…tidak juga sampai air susunya habis…
Perjuangan seorang ayah juga bukan sekedar bersedia lelah di 8 jam di kantor dan 3 jam berada di kemacetan lalu lintas kota untuk sekedar memberi nafkah…
apakah anak dapat baik-baik saja saat menyadari ayahnya terlalu lelah untuk bermain dengannya, sementara sang ibu yang tidak merasa cukup dinafkahi menyambut kedatangan ayahnya dengan muka tak ramah disertai secuil pertanyaan yang tidak mencerminkan kepercayaan?
Bukankah anak adalah makhluk jenius yang mampu merekam dan mencontoh segala hal yang ada di depan matanya?

Saya sangat setuju dengan pepatah yang menggambarkan anak bagaikan panah yang harus diarahkan dengan tepat…

Seriously, Sekali lagi , bukan karena saya sinis sama kehidupan pernikahan…
Saya hanya terlalu sering melihat pernikahan terjadi hanya sekedar untuk keseragaman agama, kesetaraan status sosial, atau menyenangkan orang tua semata yang sudah ga sabar memomong bayi atau orang tua yang menuntut anaknya menikah bukan dengan pilihan sang anak…atau yang terparah, karena ‘kecelakaan’ belaka…

Saya bukan anak pendeta atau gadis berkerudung…saya hanya salah satu orang yang memaknai pernikahan sebagai wujud spiritual tertinggi…sesuatu hal yang mempunyai dampak yang begitu hebat dan luas…

Apakah bagi anda saya pemimpi?…mungkin…
Am i being skeptical dengan pernikahan yang umumnya terjadi di Indonesia?… mungkin…
Apakah saya takut?… mungkin…
Apakah saya sendirian?…saya tidak yakin…
Apakah saya iri?… tidak sama sekali…

Sekalipun saya bertanya-tanya saat memandang foto teman-teman saya, dalam hati saya selalu berharap semoga semua hal yang mereka temui dalam biduk pernikahan bisa diatasi dan segala upaya mereka menghasilkan sesuatu yang semakin baik, baik dan baik…

Somehow, saya percaya bahwa setiap pasangan yang sudah cukup berani mengambil langkah untuk menikah akan mampu mempertahankan pernikahan dengan caranya sendiri…

Pelan – pelan menyambut pagi

Kilas tapak yang menghitung melodi kembali muncul

Nafasku bernyanyi

Nadiku merintih

Aku tetap tersenyum


Rasa indah itu nyata

Kemenangannya yang maya

Panas sorotan lampu panggung seakan menelanjangiku


Aku sendiri tak sepenuhnya puas

Hanya saja tak terpikir banyak hati menemaniku

Beberapa suara bulat menyatakan padaku…” Dia Berhasil”


Bukan ini yang kuharapkan…


Pelan – pelan menyambut pagi —aku menyambut arogansi

Akhir-akhir ini marak bener persoalan susu formula yang terkontaminasi bakteri SakaZaki (namanya funky juga ya =p)
Demo ibu-ibu yang ngebuang susu-susu formula ke dalam ember bener-bener miris…susu kan mahal…tapi apa daya…pemerintah cukup lamban untuk memberitakan produk-produk susu yang benar “terjangkit” si bang Zaki ini…

Saya pribadi memang belum punya anak dan kalopun punya anak kepinginnya pake ASI …mungkin beberapa orang yang luar biasa mendukung ASI bisa dengan entengnya beranggapan “kenapa ga pake ASI?”… wadu…syulit juga ya…disisi lain ASI memang sangat disarankan…tapi mungkin juga kan kalo ASI itu ga bisa keluar lantaran sang Ibu ga punya gizi yang cukup gara-gara kekurangan makan … kayanya ini menjadi masalah yang cukup dilematis. (sok ngomong penting tapi gak berbobot ala Siti F. Supari)

Yang bikin saya gemes adalah tingkahnya SITI Fadillah Supari…
Sebagai menteri kesehatan seyogyanya dia bisa bersikap lebih mengenai hal ini. Setidaknya, berikanlah penjelasan yang paling sederhana kalau bakteri tersebut bisa mati di atas 70 derajat celcius.

Tapi sayang sekali…di beberapa wawancara yang saya lihat hari ini dia tidak bersikap seperti itu.
Melihat dia sedikit emosi kalau sedang berkelit atas tindakan pemerintah yang lamban dan lalu mengunder-estimate sang peniliti (yang ujung-ujungnya menggelitik konflik antara tim peneliti IPB dan dirinya) rasanya seperti melihat gaya bicara Mbok Ning, pedagang sayur yang biasa mangkal di lapangan dekat rumah saya.

Ini dia secuil kata-kata BUSITi yang sempat terekam oleh saya (maap ga semuanya, karena saya udah cukup sebal untuk mendengar kelanjutan gaya bicaranya yang ga terkontrol itu):

“Apa itu, penelitian apa…Kenapa tiba-tiba aja mau meneliti hal seperti itu “
–> Bukankah kasus sang bocah yang meninggal cukup jadi trigger untuk para peneliti untuk menilik apa penyebab musababnya?

“Itu kan, ga semua lah, itu…kan ga semua susu formula terkontaminasi bakteri itu..apa namanya…”
–> bingung kan dia ngomong apa? emang itu dia ciri khas statementnya madam Supari yang konon bikin saya cukup gemes dan selalu bertanya-tanya *Kenapa sihh orang kaya dia bisa jadi menteri kesehataannnnn…?!*??&$?!!*

“Ibu-ibu jangan takut, silahkan menkonsumsi susu formula, saya jamin, kalau ada apa-apa pemerintah yang tanggung”
–> ck ck ck…segitu yakinnya…tanpa memberikan alasan yang jelas….(so typical!)

Bukannya saya kepingin menjatuhkan Madam Supari, tapi memang bener ini dari hati saya yang terdalam saya ga pernah merasa dipuaskan oleh jawaban-jawaban BUSITi. Semuanya terkesan BULSIT, tanpa dasar dan penjabaran yang jelas. (Tentu kita masih ingat bagaimana BUSITi berbicara soal flu burung dan SAR toh?)

Singkat kata, singkat cerita,

  • sebagai dokter kok dia ga bisa menjelaskan dengan baik…nama bakterinya aja lupa..(mungkin ada yang nonton dia di lain wawancara & tidak menemukan kata-kata yang saya sadur di atas, tapi di wawancara yang saya liat ituh ya dia hanya berbicara seperti itu adanya, kumur-kumur seperti biasanya)
  • Sebagai menteri kok dia tidak mampu memberikan penjelasan yang menenangkan rakyat…
  • Sebagai tokoh masyarakat kok susah menahan emosi kalo di tekan sama press…(heran…bukannya orang besar itu bisa bersikap lebih bijak?–berarti dia memang ga layak untuk jadi orang besar kali : tobil anak kadal menyeletuk:)

sedikit gosiip juga ah (mumpung blog saya ga terkenal alias jarang pembaca…denger-denger…Disertasi yang diissue BUSITi sewaktu masa kuliahnya adalah hasil plagiat semata…(pantes saja)
DAN, BUSITi ini ternyata tiap minggu tidak pernah absen ngirimin roti ke Bu Ani di masa reshuffle kabinet…(ck ck ck… PANTESSSSS ….)

Ngelantur itu hobi saya, jadi kalo omongan-omongan saya yang di atas itu kurang berkenan ya tulung dimaapkeun aja…toh saya kan bukan mentri …=p