Skip navigation

Kata – kataku terdengar busuk
Kata – katanya terdengar jauh
Jauh…sampai tidak terasa getarnya
Usang sudah rasa lelah
Lelah di aku
Tidak ayal di dia
Bertahan…
Teriak dia
Bertahan…
Bisikku

Satu kali…yang pertama

Dua kali…yang kedua

Bising sekali!

Tidak ah!, tidak mau lagi
Tapakku yang lalu masih terlihat jelas…
Itu dulu,
Kali ini tidak akan sama
tidak boleh serupa!
Jangan sampai menyesal lagi…
Aku juga mau tetap ke surga…

…Mungkin saja dia benar surga ku…

Bertahan…
Bisikku…

Advertisements

Ia mendengkur tenang…
Waktunya makan…
Belum siang, Belum pagi
Ia dengar suara cantik menari

Menghantam keras, mengecap kenyang
Berjalan anggun, ramping membuai
Sempurna berkata, setia dalam ramai
Utuh tercinta, bias terbayang

Ia mendengkur pelan…
Tak berselimutkan segan
Ia hanya tertidur…
Suaraku nyalang ditelan bilur…

Mungkin bukan aku yang seharusnya memanggil…

Hhhff…
Resah lepas aku lemas…

Sayang…

Mimpi…
Indah sekaligus…
ahhh

Angin meniupku manis kala aku…

awww !
Jantungku!
Sssshhh!!!!

Itu dia!
itu, di situ! tolong berhenti!
Sini, dekatkan telingamu!!

Anak deg Mimpi
Mimpi deg binar

Binar deg warna

Sayang
kamu aku sayang
Sayang
aku kamu sayang
sayang
aku sayang aku
sayang
kamu sayang kamu
sayang sekali bukan sekali…

Hhhff…
Resah lepas aku lemas…

Beberapa waktu lalu,


Di sana… di tempat tidak beralamat…
Saya berteduh…
Ditemani beberapa kawan setia dan secangkir kopi seringkali saya menerawang…
Tatap mata saya menembus asap putih dari batang rokok kesekian…

Sempat…
Iya…Sempat…
Penat rasanya untuk berpikir bahwa suatu saat harus melepaskan semua yang saya miliki atas nama sendiri…
Takut rasanya untuk membayangkan sesuatu akan terjadi dan tidak akan ada penyelamat di sekeliling saya… pikir saya mereka sejenis dan mereka sama lemahnya seperti saya…
Pria ?… ahh, yang menonjol dari mereka hanya alat kelaminnya, nyalinya belum tentu…
kalau bukan bajingan, palingan juga homo…
Berapa sih pria yang berani mendoakan anak laki-lakinya supaya tumbuh menjadi orang yang sama seperti dia? …

hhhfff
Iya…sulit…
Sulit rasanya untuk menutup lubang nafas arogansi…

Ada kalanya pula…
Iya…ada kalanya…
Saya sudah terlalu muak untuk memperhatikan sesuatu yang harusnya kekal namun ternyata tidak…

Sampai pada saatnya…
Ditengah kerumunan massa dan ilalang, dia berdiri…
Bingung rasanya untuk harus mempercayai yang terlihat…
Ragu rasanya untuk harus memberi hati saya & mempercayainya pada orang lain…
Gamang rasanya untuk menetap…

——–
Sampai akhirnya…, harus diakui…
Pada suatu titik…, saya merasa inilah saatnya…

Bukan karena saya tidak lagi menginginkan hidup muda yang berwarna dan tidak membosankan
Bukan karena saya ingin lari dari semua yang pernah dan sedang terjadi…
dan sebisa mungkin mencari langkah aman untuk bisa bertahan bersama dia…

Saya hanya butuh sekaligus ingin menjadi teman…
Iya…
Teman yang bisa berjalan beriringan…
Teman yang mau menyadari kesalahan satu sama lain lalu belajar dan tumbuh bersama,
Teman untuk bermimpi bersama,
Teman yang membangun rumah pohon terindah & menjadikannya tempat idaman bersama,
Teman yang bisa menjadi fallback position sekaligus memberitahu dirinya bahwa ia pun telah menjadi tempat yang sama…

Ahhh…
Rasanya sudah saatnya saya menelan dan melumat ego yang pernah singgah untuk waktu yang lama di tempat fana ini…
Mungkin saya sudah seharusnya merasakan ini…
Merasakan keindahannya…
Merasakan kenyamanannya…
Merasakan & menghargai ketulusan ini…
tanpa harus bertanya-tanya lagi…apakah dia seseorang yang tepat bagi saya?…atau apakah saya sudah menjadi orang yang tepat bagi dia?

All i believe is that finally i stop trippin’ on my youth and give my love to him…
And this is when mine goes to an end…

http://www.youtube.com/v/_FCdsK8kDJU&hl=en&rel=0&color1=0x234900&color2=0x4e9e00&border=1

Lagi kangen ama mamak- baba ni…

Ibu
By Iwan Fals

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah

Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas…ibu…ibu….

Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu

(sumber)


Saat mata hatinya berbicara, mungkin seorang perempuan akan menutup setiap skenario yang ada dalam hidupnya dan mencoba berjalan tegar…menjemput apa yang diyakininya…

Perempuan mendengar ungkapan dari seorang pria…
Mungkin ungkapan itu tidak utuh nyata, sekali pun nyata, mungkin hanya sekejab.
Seorang pria datang menyuguhkan hatinya…lalu pergi…
Pada waktu yang berbeda, di kesempatan yang berbeda, seorang pria datang lagi…lalu pergi kembali…
Bukan pria lain….masih pria yang sama…membingungkan…
dan perempuan masih menimbang hatinya…
Mau tidak mau, suka atau tidak suka,
Itu memang perempuan…
Saat mata hatinya berbicara, seolah segumpal keyakinan bisa menjadi sebesar jagat raya dan seluruh mekanisme dalam nadi dan nafasnya bergerak dengan cepat…
Akal bukan berarti hilang…perempuan hanya benar-benar menghargai apa yang utuh dirasakannya…walau terkadang lupa akan hati yang lain…

Apakah gerangan yang perempuan lakukan…?
Mengutarakan kebingungannya…
Tentu…

Keadaan yang pernah dirasa tidak menyenangkan senantiasa akan terngiang…
Beberapa tahun yang lalu, perempuan menangis…
5 tahun kemudian, perempuan masih dapat menangisi hal yang sama…
Bukan karena tidak memaafkan…perempuan hanya benar-benar menghargai apa yang utuh dirasakannya…
Karena hati yang ia rasa indah, perempuan mampu bertahan…

Sampai saatnya tiba…
Pria yang di sana tidak lagi bingung…
Entah dengan kekesalannya karena tak mungkin juga dapat bersatu , entah dengan kekikukkannya karena telah menemukan perempuan lain, entah dengan kebesaran hatinya, entah dengan kesadaran karena telah menyakiti manusia yang lain,
Dia benar-benar hilang…

Apakah gerangan yang perempuan lakukan…?
menunjukkan amarahnya…?kekecewaannya…?atau kemurkaannya sekalipun?…
Bukan tidak mungkin…

Dia lantas akan pergi ke sudut tersepi yang ia temui….dan ia pun sujud berdoa… berharap semua yang terjadi, apa pun itu, adalah hal yang baik bagi dirinya mau pun sang pria atau manusia lain…
Sang pria pun menjalani sikap yang terbaik bagi istri yang didampinginya kini…
Dan perempuan… walau menangis, ia pun tersenyum untuknya…

Hari itu… Seorang perempuan yang terkulai lemas lantaran mengecap insting akan kenyataan pahit yang tersembunyi, akan terabaikannya janji seorang pria… menyatakan dengan jelas bahwa dirinya tidak mampu lagi…
Namun bertahun-tahun pula ia bertahan… demi buah hatinya…

Apakah gerangan yang perempuan lakukan…?
Terisak…menangis…atau bahkan membungkuk mual?
Bukan tidak mungkin…

Sampai saatnya tiba…
Sang pria berlutut mencium kakinya dan mengucap maaf…

Tidak pernah menjadi sia-sia, saat ia sujud berdoa… berharap semua yang terjadi, apa pun itu, adalah hal yang baik bagi dirinya, sang pria, dan buah hatinya…
Kini mereka hidup dengan senandung…semua menjadi lebih terang dari biasanya…

Sungguh, dalamnya hati seorang perempuan tidak akan pernah bisa terukur…
Karena hati adalah indra dan nafasnya…Ia bisa terluka, dan mampu bertahan…sekaligus mengubah dunia dalam kacamata hidup yang diyakininya…

Maka kita, perempuan, bertahanlah…
Dan saya percaya setiap perempuan mampu bertahan…

Cinta.. Aku rindu lagi… dan kali ini setengah mati rinduku…

hanya saja seringkali aku terheran-heran mengapa untuk bertemu dan bercinta atas nama perasaanku yang terdalam, begitu sulit jalannya…seperti berat syaratnya…

kata mereka memang itu konsekuensinya…. aku lantas menggelengkan kepalaku…aku tidak percaya harus serunyam itu…walau tiap aku ingin bertandang, aku tahu ada seorang bapak yang akan mengajari sesuatu…tapi mengapa ia berbicara seperti orang mengantuk?? … Mengapa tidak ia kirimkan semangat cintanya?? Seperti ia ingin membuatku enggan… Ada kalanya juga saat aku menuju, kakiku terantuk batu hingga tercelup genangan lumpur dan bercaknya luar biasa mengganggu…lalu beberapa ibu berbalutkan kain linen putih atau sutera super licin berbisik pelan-pelan di belakangku…entah menganggapku jijik atau apalah …aku tak tahu… seperti mereka tak pernah jatuh saja… Aku jadi tidak yakin aku berada di tempat yang benar…

Cintaku…aku sekarang di mana?…Apa pula yang terjadi…??

Mataku kian lama kian kabur tertutup air bening nan berriak…apakah benar puing-puing yang kulihat itu…?? bukankah dahulu ada gedung megah yang senantiasa berdiri…mengapa pula banyak anak kecil berlarian di tengah jalan dengan muka yang keterlaluan hitamnya…di mana ibu mereka..??

Dan lihatlah suami istri yang bergumul dengki tanpa kata namun sakitnya jelas tertanam dalam jantung mereka hingga denyutnya terdengar…

Mataku semakin perih kala kemasukan debu yang berterbangan oleh karena mereka yang berseteru dengan lembing berapi, -api suci kata mereka-, dan arit di atas tanah merah yang kering… kulihat juga bendera-bendera berkibar tanpa makna yang jelas…

Apa maunya orang-orang ini…??

Apakah mataku sekabur ini…??

Bukankah dulu mereka senantiasa saling mencinta??….hhhfff … Aku jadi sering menganggap mereka bodoh… terlebih parah, seringkali aku mrasa resah dan bertanya-tanya jangan-jangan mereka seperti itu adanya karena “Skenario Cinta”… dan untuk itu aku sejenak menghentikan langkah, duduk menghela nafas di pojok tersendiri dan menimbang bimbang kalau sampai benar, mungkin lebih baik aku sendiri saja…dan berhenti bermimpi untuk bertemu…hhhff..maaf…tapi itu satu dari beberapa hal yang berhasil meyusup dalam kalbu…kalbu yang kelabu mungkin…

Mungkin mataku terlalu letih…mungkin aku sudah terlalu kecewa karena egois dan angkuh….

Mungkin sudah saatnya…sesaat, kala gundahku usai, kuturunkan katup tanganku yang lengket karna air mata dan sedikit berlendir…dan aku melihatnya…walau dari jauh…di belakang barisan bunga lillac dan tulip biru, terhampar taman penuh bunga-bunga tercantik dengan kolam berteratai dan air mancur terindah di tengahnya… Taman yang pernah kuingat…Ya,…Kita pernah mesra bersama di sana…dan Ya…AKu melihat langit kembali biru…udara kembali mewangi…seketika itu jiwaku merindukan romantisme tak terbanding…Ingin rasanya aku dipeluk…ingin rassanya aku mengadu….

Cinta…. Tunggu aku…Walau terseok, aku kembali berjalan…MenujuMu….

Awalnya tidak seperti ini…

Biarlah aku dikatakan hina

Dengan berkata kata

Aku tetap percaya awalnya tidak seperti ini…

Ia benar-benar indah…

dan Ia memang masih dan akan selalu seperti itu adanya

Hanya saja…

Mereka bertanya, Mereka menjawab

Mereka pandai barangkali…

Jujur …

Aku tidak berani bertanya-tanya,

Aku hanya ingin tetap rindu

Beberapa menemaniku…

Mereka, bahkan kerabatku, akhirnya menyatakan kepadaku

Ia mendua…atau bahkan di aku-aku sebagai milik mereka…

Orang seperti aku dianggapnya tidak pantas…

Tidak..tidak…

Walau aku pernah menjauh

Ia tetap ada bagiku,

Kekasihku tetap Satu

Walau mencintai kamu, kamu dan kamu…

Ia tetap mencintaiku…

Seperti aku mencinta, seperti kamu mencinta…

Aku tetap percaya awalnya tidak seperti ini

Ia benar-benar membuat semua menjadi indah

Ia adalah keindahan itu sendiri…

Ia tetap murni…

Waktu aku menangis dulu

Bukan karna aku pandai meratap

Jelas kau tahu mengapa

mentah- mentah kau buang aku…

Juga saat aku menangis pagi itu,

Bukan karna aku mabuk atau sekedar meledek…

Jelas aku melihatmu menenteng sewadah air melati yang panas

Untuk kau siram di atas lukaku yang masih menganga

Lalu dengan berang kau lepaskan di pundakku

segumpal sekam panas yang mendesis legit di belakang telingaku…

Sesaat ku lenyap terhimpit awan

Lantas aku meracau dalam tidur…

Sempurna sudah kau mengecupku

Meludahiku dengan liur manismu

Sempurna sudah kau memelukku

Merampas tubuhku erat diluar lingkar tangan yang lain

Sempurna sudah kau memilikiku

Bebas kau tiduri badan ini biar memerah dan berpeluh

Sungguh…ini bukan mimpi bagimu…

Dan saat aku menangis malam ini,

Bukan karna kelaminku yang sobek

Aku terbangun dan menangis karna aku tetap tak bisa memilikimu…